Jumat, 15 Januari 2010

Ekonomi Asia Siap Percepat Pertumbuhan

Rivayogi - Universal - Studi yang dikeluarkan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan bila Asia sudah siap untuk mempercepat pertumbuhan ekonominya, setelah krisis ekonomi global mulai berkurang. Kendati demikian pemulihannya masih akan rapuh.

Demikian seperti diungkapkan pihak ADB, dalam keterangan tertulisnya kepada Rivayogi - Universal, di Medan, Jumat (15/1/2010).

Adapun penyesuaian kebijakan ekonomi tersebut nantinya akan dikalibrasi dengan hati-hati bersamaan dengan upaya peningkatan integrasi yang akan dibutuhkan untuk mempertahankan pertumbuhan dan mencegah guncangan di masa depan.

Studi, yang diberi judul Perubahan Kebijakan untuk Asia setelah Resesi Global: Dampak Ekonomi Global dan Implikasi Kebijakan, mencatat bahwa pertumbuhan di wilayah ini diharapkan bisa dipercepat pada tahun ini dan bisa mendapatkan kembali kekuatan ekonomi global.

Namun demikian, studi ini juga mengingatkan bahwa pemulihan di Asia masih terlalu bergantung pada dukungan kebijakan dari negara maju, sementara perputaran di wilayah pasar terbesar yakni Amerika Serikat, belum mendapatkan aksi.

Arus modal yang dapat menyebabkan volatilitas nilai tukar dan likuiditas dalam negeri juga terus berisiko bagi negara-negara berkembang di kawasan tersebut.

Penelitian ini disiapkan sebagai salah satu dari serangkaian laporan yang akan dipresentasikan pada dua hari forum regional pada Dampak Global Krisis Ekonomi dan Keuangan yang diselenggarakan oleh ADB di Manila.

Pejabat tinggi termasuk pembuat kebijakan, para menteri keuangan, kepala bank sentral, para pemimpin bisnis, dan pengembangan para ahli dari hampir 20 negara di negara berkembang Asia akan mengambil bagian dalam forum.

"Daerah ini (Asia) sekarang menunjukkan tanda-tanda pemulihan berbentuk V, dengan prospek pertumbuhan 6,6 persen untuk tahun ini. Meskipun kami percaya negara berkembang di Asia telah memimpin pemulihan ekonomi global, masih terlalu awal bisa santai untuk mengembalikan permintaan dan menstabilkan sistem keuangan. Secara khusus, strategi untuk keluar stimulus fiskal pun harus hati-hati," tukas Presiden ADB Haruhiko Kuroda.

Selain itu, pengurangan kemiskinan tidak akan dipertahankan pada kecepatan pra-krisis, kecuali sumber pertumbuhan yang lebih seimbang ke arah permintaan domestik dan regional, dan dibuat lebih inklusif.

ADB pun mengatakan bila pertumbuhan daerah merupakan hal yang sangat penting untuk membawa kembali ke lintasan yang lebih tinggi demi pengurangan kemiskinan dan untuk mendukung pemulihan global. (rivayogi - Universal)

Asia Harus Perkuat Kerja Sama di Sektor Keuangan

Rivayogi - Universal - Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam studinya mencatat bahwa Asia harus terus memperkuat kerja sama di sektor keuangan sebagai benteng terhadap gejolak keuangan terhadap negara-negara maju di masa depan.

Studi ini diungkapkan ADB dalam laporannya berjudul Kebijakan Perubahan untuk Asia setelah Resesi Global: Long Term Implikasi terhadap Perekonomian Asia, melalui keterangan tertulisnya kepada okezone, di Jakarta, Jumat (15/1/2010).

Namun demikian, hal tersebut juga menekankan bahwa usaha integrasi dari kerja sama itu haruslah sederhana dalam ukuran untuk memastikan adanya manfaat yang nyata.

"Para pembuat kebijakan harus menghindari penggunaan atas sumber daya birokrasi yang langka dan niat politik yang terbatas dan berinisiatif besar yang tidak menghasilkan manfaat nyata, tetapi harus fokus pada usaha skala kecil," demikian diungkapkan laporan tersebut.

Di samping itu, kerja sama yang diperkuat dengan perjanjian bilateral ini memungkinkan lembaga keuangan besar di satu negara untuk memperluas atau mengakuisisi bank lain, serta hak istimewa dalam perluasan sektor subregions, seperti Subregion Greater Mekong.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menyarankan untuk mendukung pertumbuhan di masa depan, negara-negara di kawasan harus meningkatkan perdagangan intra.

Serta mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan produktivitas dan kapasitas mereka untuk inovasi. Selain itu, harus mengadopsi kebijakan ekonomi yang lebih kecil dan lebih menarik produsen biaya rendah, investasi langsung asing, hingga pariwisata.(rivayogi - universal)

BI Akui Besarnya Arus Dana Asing

Rivayogi - Universal - Bank Indonesia (BI) mengakui jika arus dana asing yang masuk ke pasar uang sangat besar, sehingga mempengaruhi penguatan mata uang rupiah hingga beberapa hari terakhir.

Arus dana yang besar tersebut, tidak hanya masuk ke Indonesia saja, namun beberapa juga ke negara besar lainnya.

"Ya memang arus dana dari luar memang besar, walaupun bukan ke kita saja. Itu praktis masuk ke semua negara berkembang, policy rate yang tinggi," ujar Pjs Gubenur Bank Indonesia Darmin Nasution, saat ditemui wartawan, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (15/1/2010).

Sekadar mengingatkan, rupiah berhasil menguat tipis dan bertahan di level Rp9.100 per USD pada penutupan perdagangan sore kemarin.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kurs tengah pada penutupan perdagangan Kamis sore, rupiah berada di level Rp9.150 per USD. Yakni turun jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin di level Rp9.180 per USD.

Tercatat, untuk kurs jual rupiah berada di level Rp9.196 per USD sementara untuk kurs beli ada pada posisi Rp9.104 per USD. (rivayogi - universal)

Obligasi BFI Finance Rp160 Miliar Suku Bunga Tetap

Rivayogi - Universal - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mengungkapkan bila seluruh nilai pokok obligasi BFI Finance Indonesia II Tahun 2009 dengan tingkat bunga tetap sebesar Rp160 miliar.

Disampaikan Corporate Secretary BFI Finance Indonesia Cornellius Hanry, dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (15/1/2010), keputusan ini sesuai dengan sertifikat jumbo obligasi yang diterbitkan pada 15 Januari 2010 (tanggal emisi).

Adapun obligasi tersebut dibagi atas tiga seri, yakni Seri A dengan jumlah pokok sebesar Rp65 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 12 persen per tahun yang berjangka waktu 370 hari kalender sejak tanggal emisi.

Sementara Seri B dengan jumlah pokok sebesar Rp30 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 12,75 persen per tahun yang berjangka waktu 18 bulan sejak tanggal emisi.

Sedangkan untuk Seri C dengan jumlah pokok sebesar Rp65 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 13,25 persen per tahun untuk jangka waktu 24 bulan sejak tanggal emisi.

Sebelumnya, perseroan telah menerbitkan obligasi II-2009 maksimal senilai Rp200 miliar dengan tingkat suku bunga di kisaran 12-13,25 persen. Obligasi dengan tingkat bunga tetap itu akan ditawarkan pada 12 Januari 2010.

Obligasi yang terdiri atas tiga seri di antaranya untuk Seri A berjangka waktu 370 hari dengan jumlah yang ditawarkan maksimal Rp100 miliar. Sementara itu, obligasi seri B berjangka waktu 18 bulan dengan jumlah emisi maksimal Rp300 miliar. Obligasi seri C berjangka waktu 24 bulan dengan jumlah maksimal obligasi Rp70 miliar.

Perkiraan masa penawaran awal 12 Januari 2010, tanggal efektif 8 Januari lalu, penjatahan 13 Januari 2010, pembayaran 14 Januari 2010, distribusi secara elektronik 15 Januari 2010, dan pencatatan di BEI pada 18 Januari 2010.

Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk pembiayaan konsumen sebesar 90 persen dan kegiatan sewa pembiayaan 10 persen. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi adalah PT Danareksa Sekuritas. (Rivayogi - Universal)

Menkeu Tertipu BI, Gubernur BI Enggan Komentar

Rivayogi - Universal - Pjs Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution enggan berkomentar mengenai laporan BI yang dinilai tidak lengkap terkait kasus Bank Century, sehingga Menkeu Sri Mulyani merasa dirinya tertipu.

"Saya tidak komentar dulu, kata siapa itu?" kata Darmin saat ditemui wartawan usai salat Jumat, di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (15/1/2010).

Sebelumnya, Sri Mulyani sempat melontarkan kekesalannya terhadap kinerja BI saat diperiksa menjadi saksi dalam rapat investigasi panitia khusus (Pansus) hak angket DPR. Dia mengaku tidak puas perihal laporan BI yang berisi permasalahan di Bank Century.

Hal tersebut berdasarkan informasi rinci terkait kondisi Bank Century yang diungkapkan dan selalu berubah-ubah. Menurut Sri Mulyani, informasi memutuskan bank gagal berdampak sistemik itu memadai. Menkeu pun kabarnya sempat mengatakan tertipu oleh laporan BI kepada Mantan Wapres Jusuf Kalla.

Sementara terkait dengan peran pengawasan BI yang disindir oleh Pansus, Darmin mengatakan jika BI sudah menjalani perannya dengan cukup baik. "Sebetulnya bidang pengawasan sudah berjalan tapi akan terus dilakukan," imbuh Darmin.

Pada akhir 2008, lanjutnya, BI juga telah melakukan perombakan dalam internal BI. Hal ini dilakukan untuk menghindari peluang-peluang terjadinya pelanggaran.

"Di akhir Desember 2008 Pak Boediono (Mantan Gubernur BI) telah melakukan reposisi (perombakan). Termasuk pejabat pengawasan yang barang kali ada yang diragukan, dan akhirnya tidak melahirkan suatu peluang-peluang," jelasnya.

Menurutnya, kewenangan BI dalam pengawasan termuat dalam undang-undang yang memberikan penetapan kebijakan (diskresi). "Seharusnya aturan-aturan itu punya kejelasan, sehingga ada ruang diskresi ," imbuhnya. (rivayogi-universal)

Rabu, 13 Januari 2010

Putusan Pengadilan Bisa Mempercepat Tarik Aset Century Dari Swiss

Kejaksaan Agung mengaku pengadilan Swiss telah menyita beberapa barang bukti yang merupakan aset Century yang ditemukan di Swiss oleh Tim Pemburu Aset Century.“Ada yang ditemukan, milik buron Hesyam dan Rafat,yang berkait dengan barang bukti juga sudah disita,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Didiek Darmanto kemarin. Sayangnya, Didiek enggan menjelaskan apa saja dan berapa jumlah barang bukti yang sudah disita tersebut.

Menurut dia, dalam penyitaan aset itu, ada beberapa pihak yang menyatakan keberatan dari pihak Swiss terkait beberapa perbedaan pertimbangan hukum. Meski begitu, pengadilan Swiss menyatakan masih terbuka peluang aset itu ditarik ke Indonesia dengan syarat sudah ada keputusan resmi dari pengadilan.

“Caranya sidang terdakwa yang buron maju dulu dengan cara in absentia, disatukan dengan perkara pencucian uang,”kata dia. Menurut Didiek,kejaksaan masih menunggu pelimpahan berkas pencucian uang dari Mabes Polri. Setelah diterima,itu akan segera dilimpahkan ke pengadilan.

Didiek juga menandaskan,kejaksaan akan melakukan koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kepastian kerugian keuangan yang ditimbulkan atas tindakan dua orang yang kini buron tersebut. Seperti diberitakan sebelumnya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Marwan Effendy mengatakan bahwa pengadilan in absentia terhadap dua buron kasus Century tersebut perlu segera dilakukan karena itu dasar hukum untuk dapat dilakukannya penarikan uang Century yang tersebar di beberapa negara.

“Kita perlu ada backup hukumnya untuk dapat menarik uang itu. Makanya, kita mau segera ajukan ke pengadilan, backup hukumnya untuk meminta penetapan pengadilan,” kata Marwan beberapa waktu lalu.***

Penghargaan Buat Telkom

ntuk kedua kalinya, PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (TELKOM) berhasil meraih predikat bergengsi pada ajang Frost & Sullivan Indonesia Telecoms Award 2009 yang berlangsung di Jakarta (11/11). Frost & Sullivan Indonesia Telecoms Award merupakan ajang tahunan peanugerahan kepada operator terbaik di dalam sektor telekomunikasi di Indonesia.

Anugerah yang diperoleh TELKOM pada ajang Frost & Sullivan Indonesia Telecoms Award 2009 meliputi: Kategori Service Provider sebagai “Data Communication Service Provider of The Year” dan “Broadband Service of The Year”. Sedangkan pada Kategori Best of The Best TELKOM meraih predikat “Service Provider of The Year”.

Frost & Sullivan Indonesia Telecoms Award merupakan ajang tahunan peanugerahan kepada para pemain terbaik di dalam sektor telekomunikasi di Indonesia. Award yang diberikan merupakan refleksi atas dedikasi, keunggulan dan telada oleh para pemain tertinggi dalam sektor telekomunikasi di Indonesia yang tidak hanya berprestasi di dalam persaingan pasar tetapi juga telah meningkatkan posisi industri telekomunikasi di Indonesia.

Direktur Konsumer I Nyoman G Wiryanata yang mewakili TELKOM menerima penghargaan dari Country Director of Frost & Sullivan Eugene Van de Weerd mengatakan, penghargaan tersebut merupakan bukti semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap TELKOM. “Penghargaan dari sebuah lembaga bergengsi seperti Frost & Sullivan ini merupakan apresiasi atas kinerja TELKOM selama ini,” ujarnya.

”Di tengah-tengah berbagai tekanan yang dihadapi Telkom, terkait dengan kompetisi yang semakin menguras pemikiran dan tenaga, ternyata kami masih bisa meraih berbagai prestasi yang membanggakan,” katanya kemudian.

Dijelaskan Nyoman, TELKOM pada 23 Oktober 2009 lalu memperingati Hari Jadi ke-153 sekaligus memperkenal identitas baru dan portofolio bisnis baru. “Selain melakukan transformasi bisnis dari yang semula hanya InfoCom kepada T.I.M.E atau Telecommunication, Information, Media dan Edutainment, TELKOM juga memperkenalkan posisitioning baru, yakni Life Confident,“tuturnya.

Dijelaskan dia, makna Life Confident itu sendiri berarti TELKOM mendedikasikan keahlian yang dimilikinya kepada kemajuan, sehingga akan memberikan keyakinan bagi semua pelanggan untuk mendukung kehidupan mereka di mana pun mereka berada.

Sesuai dengan tag line baru TELKOM, yakni The World in Your Hand, TELKOM ingin bergandengan tangan bersama seluruh rakyat Indonesia untuk meraih cita-cita menggengam dunia dengan memberikan karya terbaik yang dimiliki Telkom.

TELKOM meraih Best of The Best e-Company Award 2009.
Sementara itu, pada ajang Warta Ekonomi e-Company Award 2009 di Hotel Mulia Jakarta (29/10), PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) meraih Juara Satu e-Company Award 2009 untuk kategori perusahaan telekomunikasi dan Best of The Best e-Company Award 2009.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh CEO Warta Ekonomi, Mario Alisjahbana didampingi Pemimpin Umum Warta Ekonomi, Amie Effendi Siregar, dan diterima oleh Direktur IT Suply Telkom, Indra Utoyo.

Pada kesempatan tersebut, Indra Utoyo mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas penghargaan tersebut. Ia berharap Telkom bisa terus memberikan yang terbaik. “Apabila IT Governance diterapkan secara baik dan kredibel di perusahaan, maka hasilnya akan cukup efektif dan efisien,” ujar Indra. “Penerapan IT di perusahaan saat ini juga menjadi yang tak terpisahkan dan transformasi Telkom,” tambahnya.

Warta Ekonomi e-Company Award 2009 adalah sebuah bentuk penghargaan kepada perusahan terbaik di Indonesia yang sukses mengimplementasikan teknologi informasi yang mampu mendorong kinerja bisnis perusahaan.

 

©2009Rivayogi News | by TNB