Kamis, 04 Februari 2010

Siap-Siap, Selama Sepekan Rupiah Bakal Menguat

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah selama sepekan ke depan diprediksi akan mengalami penguatan. Faktor penyebabnya, adanya angin segar dari penjualan sukuk ritel yang melampaui target pemerintah.

"Minggu ini ada sentimen positif dari pasar, yaitu penjualan sukuk ritel yang bisa sedikit memberikan efek kontraksi kepada rupiah," ujar analis Lana Soelistianingsih, dalam buletin yang dipublikasikan oleh Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, Senin (1/2/2010).

Namun, jelasnya, pergerakan rupiah yang berhasil menguat pada penutupan akhir pekan lalu, diprediksi memberi imbas pada pergerakan saham pekan ini. "Kami perkirakan rupiah ada dalam kisaran Rp9.280 sampai Rp9.400 per USD.

Pergerakan nilai tukar rupiah di sepanjang pekan terakhir Januari sempat mengkhawatirkan menembus kembali level Rp9.450 per USD pada kurs tengah Bloomberg. Pelemahan ini terjadi karena menguatnya mata uang USD.

Tidak hanya rupiah yang melemah, tetapi juga mata uang Asia lainnya. Namun mulai Kamis lalu, rupiah mulai menguat kembali ke Rp9.340 per USD, dan akhirnya ditutup di Rp9.353 per USD. Seperti halnya rupiah yang bergerak searah dengan mata uang Asia lainnya, IHSG juga demikian.

IHSG ditutup turun ke 2.610,8 pada akhir perdagangan pekan lalu (Jumat 29 Januari). Sentimen dalam negeri masih kurang kondusif pada minggu lalu, demo dan agenda 100 hari pemerintah yang menimbulkan hiruk pikuk politik tidak menarik perhatian investor. Justru kondisi ekonomi global masih terus menjadi pertimbangan utama investasi. Sementara itu harga minyak mentah juga masih dalam tren turun, ditutup di USD72,89 per barel.

Sekadar mengingatkan, nilai pemesanan sukuk negara ritel 002 (SR-002) hingga kemarin telah melampaui target pemerintah. Tercatat, nilai pemesanan SR-002 sebesar Rp3,22 triliun. Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, target penjualan SR-002 telah melampaui target. Nilai itu diperoleh menyusul banyaknya minat investor terhadap instrumen tersebut, padahal masa penawaran masih tersisa lima hari lagi.

Sementara itu, jumlah investor yang memesan instrumen negara tersebut mencapai 7.772 investor. Nilai pemesanan dan jumlah investor diperkirakan lebih besar lagi karena dua agen penjual belum melapor. Tingginya minat investor terhadap SR-002 karena pajak atas kupon dan imbal hasil yang ditawarkan lebih menarik dibanding instrumen lainnya.

Seperti diketahui, pajak atas kupon dari SR-002 ditetapkan sebesar 15 persen, lebih kecil dibandingkan pajak atas deposito yang mencapai 20 persen. Sementara imbal hasil SR-002 sebesar 8,7 persen, juga lebih tinggi dibandingkan bunga deposito yang rata-rata enam persen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

©2009Rivayogi News | by TNB