JAKARTA - Aksi jenuh beli terhadap saham-saham di bursa kembali terjadi. Pelemahan karena aksi jual pada saham-saham unggulan yang sudah memasuki area overbought, memberi imbas terhadap kondisi bursa yang sudah jenuh beli sangat rawan dengan aksi ambil untung para investor.
Saat ini indeks harga saham gabungan (IHSG) berada pada level 2.444,599, atau melemah 31,514 poin (1,27 persen) pada perdagangan pukul 10.35 JATS. Indeks LQ 45 tercatat melemah 7,245 poin (1,59 persen) ke level 471,694.
Sedangkan indeks Dow Jones semalam turun 103,84 poin atau satu persen ke level 9.908,39. Pada Kamis pekan lalu, Dow diperdagangkan di bawah level psikologisnya, 10.000, untuk pertama kalinya sejak November lalu.
Sejak 4 November 2009, indeks Dow tidak pernah ditutup di bawah 10.000. Bahkan pada Maret kemarin, Dow masih naik 51,3 persen. Sedangkan indeks &P 500 turun 9,45 poin atau 0,9 persen ke 1.056,74, dan Nasdaq turun 15,07 poin atau 0,7 persen ke 2.126,05.
Menurut research analis Bhakti Securities Reza Nugraha, bursa masih berpotensi untuk menguat hari ini, meskipun tekanan jual diperkirakan masih ada.
"Saat ini sejumlah investor masih menanti kabar positif di pasar. Sehubungan dengan pemberitaan dari luar terkait utang Eropa dan pernyataan penting dari Amerika yang berimbas ke Wall Street, sehingga kita kena imbasnya," ujarnya, saat berbincang dengan okezone, di Jakarta, Selasa (9/2/2010).
Selain itu, investor kembali menjadi khawatir dan pesimistis. Sentimen negatif terlihat di pasar modal Asia. Indeks di semua bursa Asia kemarin ditutup turun. IHSG kemarin ditutup di 2.475,57 turun 1,72 persen, terendah di antara indeks Asia lainnya. Penurunan tajam IHSG ini juga terdorong oleh isu politik mengenai reshuffle kabinet yang semakin intensif dibicarakan di kalangan para politisi.
"Saya tidak mau berspekulasi, namun isu politik ini mulai mengganggu sentimen pelaku pasar yang semula masih relatif netral terhadap gejolak politik akibat kasus Century," ungkapnya.
Kendati ada kekhawatiran terhadap pemulihan ekonomi global, tetapi harga minyak mentah ditutup sedikit naik ke USD71,89 per barel terkait dengan badai salju hebat di seanjang pantai timur AS termasuk ibukota AS Washington DC.
Sekadar mengingatkan, harga minyak mentah berhasil menguat tipis di atas level USD71 per barel, pada penutupan perdagangan awal pekan Senin kemarin waktu setempat, seiring permintaan bahan bakar yang kian bertambah karena badai di Pantai Timur akan menyerang.
Seperti dikutip dari Reuters, dalam ramalan cuaca, sebagian wilayah di kawasan Virginia, Maryland, Pennsylvania, dan Washington telah tertutupi dengan salju setebal tiga kaki. Para analis berharap, suplai gas alam dan minyak cair meningkat dengan adanya hal tersebut.
Selain itu, penguatan si emas hitam didukung oleh dolar yang kembali melemah dan ketika beberapa investor memandang kejatuhan sesi sebelumnya ke dua bulan dekat rendah sebagai kesempatan membeli.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar