JAKARTA - Bank Mutiara yang saat ini memiliki aset sebesar Rp5 triliun dinilai memiliki potensi untuk menjadi bank induk bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) agar mampu bertahan menghadapi persaingan.
"Dengan aset Rp5 triliun, bank Mutiara bisa jadi bank induk bagi sekira 1.746 BPR yang ada di seluruh Indonesia," ujar Ketua Perhimpuan Bank Perkreditan Indonesia (Perbarindo) Said Hartono, saat Dialog Industri Perbankan Tahun 2010, di Gedung Serba Guna LPPI, Kemang, Jakarta, Senin (25/1/2010).
Dirinya mengaku kondisi BPR saat ini sangat mengkhawatirkan dan mengalami banyak kesulitan, sehingga bank induk ini nantinya akan berfungsi untuk membantu permodalan BPR agar bisa terus bergerak. "Kalau diam, kami (BPR) akan mati tenggelam," tambahnya.
Sejak 2004 sampai sekarang, pertumbuhan BPR terus merosot dengan volume usaha BPR yang sejak 2004 mulai stagnan. Adapun, volume penyaluran kredit hanya tumbuh 0,13 persen yaitu dari 1,25 persen pada November 2004 menjadi 1,4 persen pada November 2009.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya tumbuh 0,15 persen dari 1,15 persen pada November 2004 menjadi 1,15 persen pada November 2009. "BPR hanya tambah enam nasabah per bulannya," tambahnya.
Selain itu, BPR juga mengharapkan agar BI bisa menjalankan fungsi lender of the last resort (peminjam terakhir) bagi BPR. Sebab selama ini fungsi lender of the last resort baru dilaksanakan untuk bank umum saja. "Selama ini fungsi lender of the last resort BI baru dilaksanakan untuk bank umum saja," tandasnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar